Pernah merasa Minggu sore belum selesai, tetapi pikiran sudah sibuk memikirkan pekerjaan hari Senin? Anda mungkin sedang mengalami Sunday Scaries—rasa cemas atau berat menjelang kembali bekerja. Untuk staf travel, perasaan ini bisa muncul saat membayangkan chat jamaah yang belum dibalas, dokumen yang belum dicek, atau pekerjaan yang menunggu di meja.
Perasaan tersebut bukan berarti Anda malas bekerja. Sering kali, otak sedang bereaksi terhadap ketidakjelasan dan beban yang belum memiliki titik mulai. Kabar baiknya, Anda dapat membuat transisi kecil agar waktu istirahat tetap terasa utuh dan Senin dimulai dengan lebih tenang.

Apa itu Sunday Scaries?
Sunday Scaries adalah istilah populer untuk rasa cemas atau takut yang muncul ketika seseorang mulai memikirkan minggu kerja yang akan datang. Biasanya, rasa ini muncul pada Minggu sore atau malam, ketika perhatian perlahan berpindah dari waktu istirahat ke tugas dan tanggung jawab pekerjaan.[2]
Bentuknya bisa berbeda-beda: sulit menikmati waktu bersama keluarga, terus mengecek ponsel, sulit tidur, sakit kepala, perut tidak nyaman, atau merasa sudah lelah sebelum Senin dimulai. Istilah ini bukan diagnosis medis. Namun, jika berulang dan mengganggu tidur, kesehatan, atau kemampuan bekerja, jangan abaikan sinyal tersebut.[1][2]
Kenapa pekerjaan travel bisa terasa terbawa sampai Minggu?
Staf travel berhadapan dengan pekerjaan yang saling terhubung. Satu pesan yang belum dijawab dapat mengingatkan Anda pada dokumen, pembayaran, jadwal, atau pertanyaan lain. Ketika batas antara waktu kerja dan waktu pribadi tidak jelas, otak sulit mendapatkan kesempatan untuk benar-benar “mematikan” pekerjaan.
Stres kerja yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan fisik dan emosional, termasuk konsentrasi dan kualitas tidur.[1] Karena itu, solusinya bukan memaksa diri untuk selalu positif. Langkah pertama adalah membuat hal yang belum selesai menjadi lebih jelas dan terbatas.
4 cara menghadapi kecemasan Minggu malam
1. Cari pemicu yang paling spesifik
Jangan berhenti pada kalimat “Saya stres memikirkan Senin.” Tanyakan: bagian mana yang paling membuat Anda tegang? Apakah ada tugas yang belum jelas, pekerjaan yang tertunda, percakapan sulit dengan jamaah, atau kekhawatiran akan lupa sesuatu?
Tulis satu sampai tiga pemicu. Menuliskannya membantu Anda melihat pola, bukan hanya merasakan beban yang samar.[1]
2. Buat penutup kerja yang sederhana
Sebelum benar-benar mengakhiri hari kerja, luangkan 10 menit untuk mencatat tiga hal: pekerjaan yang sudah selesai, pekerjaan yang perlu dimulai pada Senin, dan pertanyaan yang perlu Anda bawa ke atasan atau tim. Jangan mencoba menyelesaikan semuanya pada Minggu malam. Tujuannya adalah memberi otak titik berhenti yang jelas.
Untuk staf travel, catatan itu bisa sesederhana: “Senin pagi: cek daftar follow-up; tanyakan status dokumen kepada tim administrasi; balas tiga pesan yang sudah diberi tanda.” Hindari menulis daftar panjang yang justru membuat Anda semakin cemas.
3. Tetapkan batas ponsel dan chat pekerjaan
Jika peran Anda tidak menuntut siaga di luar jam kerja, tentukan waktu untuk berhenti mengecek chat pekerjaan. Anda dapat memberi tahu tim kapan akan kembali aktif, lalu mengatur ponsel agar notifikasi yang tidak mendesak tidak mengambil alih waktu istirahat.
Batas ini bukan tanda Anda tidak peduli pada jamaah atau tim. Justru, waktu pemulihan membantu Anda kembali bekerja dengan perhatian yang lebih utuh. American Psychological Association menyarankan adanya periode ketika seseorang tidak melakukan atau memikirkan aktivitas kerja agar dapat memulihkan tenaga.[1]
4. Siapkan satu hal yang menyenangkan pada Senin
Jangan biarkan Senin hanya berisi daftar kewajiban. Rencanakan satu hal kecil yang realistis: sarapan bersama rekan, menyelesaikan tugas yang Anda kuasai lebih dulu, atau berjalan sebentar sebelum mulai bekerja. Strategi semacam ini tidak menghapus sumber masalah, tetapi dapat membuat perpindahan dari akhir pekan ke hari kerja terasa lebih manusiawi.[2]
Kapan Anda perlu meminta bantuan?
Jika kecemasan muncul hampir setiap minggu, membuat Anda tidak bisa tidur, mengubah pola makan, sering ingin menghindari pekerjaan, atau mengganggu kehidupan sehari-hari, bicarakan dengan orang yang dipercaya dan pertimbangkan bantuan profesional.[2] Anda juga dapat berbicara dengan atasan tentang prioritas, beban kerja, atau ekspektasi yang belum jelas. Meminta bantuan bukan kegagalan; itu cara menjaga agar masalah tidak terus membesar sendirian.
Transisi yang sehat juga membutuhkan alur kerja yang jelas
Kebiasaan pribadi penting, tetapi tim travel juga perlu membantu anggotanya bekerja dengan lebih teratur. Pembagian peran yang jelas, catatan pekerjaan yang mudah ditemukan, dan prioritas yang disepakati dapat mengurangi pekerjaan yang terus berputar di kepala setelah jam kerja.
Jika Anda sedang membangun fondasi operasional travel yang lebih rapi, Anda dapat mengenal produk dan layanan Safar untuk melihat bagaimana kebutuhan pengelolaan travel dapat ditata dalam satu sistem. Pilih solusi yang sesuai kebutuhan Anda—bukan sekadar menambah alat baru.
Mulai dari satu penutup kerja malam ini
Malam ini, coba tutup pekerjaan dengan satu catatan singkat: apa yang sudah selesai, apa yang menjadi prioritas pertama pada Senin, dan siapa yang perlu diajak bicara. Setelah itu, izinkan diri Anda kembali ke waktu istirahat.
Anda tidak harus menyelesaikan seluruh minggu pada Minggu malam. Cukup buat langkah pertama pada Senin menjadi lebih jelas.
